Kenal
sushi? Hmm, hampir semua orang menyukainya, apalagi untuk
seorang pencinta sushi seperti saya. Sushi adalah makanan khas jepang yang
memiliki sejarah panjang untuk akhirnya sampai bisa dinikmati oleh semua
kalangan di Jepang. Eitss, bukan
hanya itu saja. Sushi saat ini sudah bisa dikonsumsi oleh masyarakat di
Indonesia dengan harga yang murah meriah.
Saya
sangat menyukai sushi dan motivasi saya menulis ini satu-satunya adalah itu.
Yap! Karena saya mencintai sushi! Dalam bahasa inggris, mencintai makanan itu
tidak salah loh. Ingat? ada phrase “I love food”dalam bahasa inggris.
Oke,
kembali membahas tentang sushi. Sushi awalnya adalah makanan untuk kalangan
kelas atas sampai pada abad ke-19. Perjalanan sushi sampai bisa menjadi makanan
semua kalangan di Jepang dimulai dari rumah makan kaitenzushi yang dibuka masih
pada abad ke-19 juga. Namun, perjalanan itu tidak berlangsung cepat untuk
sampai kepada masa saat ini, dimana sushi bisa dinikmati dengan mudah. Sushi
yang disuguhkan dalam acara keluarga baru benar-benar terjadi pada tahun 1980-an.
Kini
sushi bukan lagi terbatas sebagai makanan mewah, namun sushi adalah makanan khas
Negeri Sakura yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Dewasa ini, Anda bisa melihat
penjualan sushi bukan hanya di restoran mahal. Ada banyak pedagang kaki lima yang
semakin lama semakin menjamur menyajikan sushi lezat dengan harga ekonomis di
luar sana (di Jepang maupun Indonesia).
Hal
ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi para penggila makanan, tetapi belum
pernah sekalipun mencoba sushi. Aneh rasanya, andai saja seorang pencinta
makanan belum pernah mencoba makanan yang satu ini. Tetapi, sebelum lebih jauh
dan panjang lebar tentang sushi, kita harus perlu tahu seluk beluk tentang
sushi itu sendiri. Jadi, saya akan memulai bercerita tentang bahan-bahan sushi
terlebih dahulu.
Sushi,
notabene merupakan hasil dari budaya mengawetkan ikan pada zaman dulu. Budaya
pengawetan ikan tersebut dilakukan dengan menggulung ikan bersama dengan nasi
kemudian difermentasi. Akhirnya, fermentasi tersebut menghasilkan rasa masam dan
inilah asal muasal munculnya akar kata sushi yang dalam bahasa kuno jepang,
sushi berarti (berasa) masam. Namun, pada mulanya sushi berasal dari kata gyoso (salah satu jenis pengawetan ikan
dalam bahasa jepang).
Sushi
disajikan dengan berbagai neta. Bagi
anda yang belum mengenal neta, neta adalah lauk sushi berupa makanan
mentah ataupun makanan rebusan yang umumnya merupakan olahan laut, advokad, timun,
dan banyak lagi.
Penyajian
sushi sendiri bukan hanya terbatas seperti penyajian sushi yang kebanyakan
dihidangkan sekarang dengan cara sushi yang berupa gulungan berbalut nori dan
nasi. Melainkan, sushi memiliki beragam jenis sesuai cara menghidangkannya.
Tulisan
ini akan lebih menjelaskan sushi yang populer di kalangan remaja maupun
kalangan dewasa di Indonesia. Sushi menjadi salah satu pilihan makanan yang
populer saat ini bukan sebagai alternatif atau pengganti. Terbukti dari semakin
menjamurnya penjual-penjual sushi dari harga tertinggi hingga harga yang bisa
dijangkau oleh anak muda yang notabene belum memiliki penghasilan sama sekali.
Pada
kenyataannya, kepopuleran sushi memang bukan tanpa alasan. Sushi bisa menjadi
pilihan di tengah-tengah sibuknya masyarakat perkotaan dengan pekerjaannya.
Sushi yang saat ini bisa dipesan antar bahkan bisa dijadikan sebagai pilihan
utama apalagi rasanya yang enak dan bagi sebagian orang sushi menjadi pemegang
mahkota kuliner tersendiri bagi mereka.
Rasa
sushi dengan netanya dipadupadankan
dengan rasa manis, asam, asin dari kecap asin, wasabi, daun kering, nori, dan lain-lain bisa membuat lidah anda terguncang
dari nikmatnya rasa umami sushi! Anda sudah kenal rasa umami? Umami adalah
jenis rasa ke lima setelah manis, asin, asam, dan pahit. Rasa umami itu membawa
anda ke perpaduan rasa manis, asin, asam, dan pahit. Terbayang kan lezatnya
sushi!
Anda
penasaran? Ingin mencoba sushi? Selain rasa, Anda akan menjadi lebih sehat juga
lebih cerdas dengan makan sushi. Hal ini bukan tanpa alasan, loh. Sushi
merupakan hasil fermentasi dari ikan mentah dan nasi. Sehingga, cuka sebagai
hasil dari fermentasi nasi akan menguraikan asam amino dari daging ikan.
Tetapi,
ada hal yang patut dipertimbangkan terlebih dahulu, karena sushi adalah makan
fermentasi. Sushi cepat busuk, apalagi jika sushi berada di tempat-tempat
tropis seperti Indonesia. Selain itu, sushi yang biasanya digulung tanpa
menggunakan sarung tangan akan lebih mudah untuk terkena bakteri, meskipun
sebernarnya saat ini restoran sushi maupun pedagang kaki lima sudah hampir
semua pembuat sushi-nya menggunakan sarung tangan.
Sedikit
mengulik tentang dunia, alasan saya memberikan kalimat seperti di atas adalah
karena pada kenyataannya di Jepang, orang Jepang akan kehilangan selera apabila
melihat pembuat sushi ternyata menggunakan sarung tangan dalam pembuatan
sushi-nya. Kebalikan dari Amerika Serikat, yang mewajibkan semua pembuat sushi
untuk memakai sarung tangan dalam membuat sushi.
Meskipun
demikian, tetap saja di Jepang, kebanyakan swalayan yang menyediakan sushi
untuk dibawa pulang, membuat sushi tersebut dengan menggunakan sarung tangan.
Sushi yang siap makan dalam keadaan terbungkus plastic wrap tersebut pada umumnya dibuat oleh pembuat sushi yang
mengenakan sarung tangan dalam proses pembuatan-nya. Pertimbangan ini bisa
berasal dari perbedaan antara penyajian restoran yang bisa langsung dimakan
pada saat dihidangkan, karena sushi yang merupakan hasil fermentasi memang
cepat busuk apabila tidak segera dihabiskan.
Jika
Anda ngiler karena membaca tulisan saya ini, tenang, karena Anda bisa mencoba
sushi dengan berbagai varian rasa tapi tidak mau kantong jebol. Anda bisa
mencoba pengalaman merasakan kenikmatan sushi dari restoran-restoran, bahkan
dari abang pedagang sushi kaki lima yang tidak kalah enaknya di kota-kota
Indonesia!
Saya
akan memperkenalkan sushi di Indonesia berdasarkan pengalaman saya dan
teman-teman saya mengenai sushi. Sushi di Indonesia beragam harganya, salah
satunya bisa didapatkan dengan harga Rp18.000 saja. Dengan harga Rp18.000 ini,
di dalamnya Anda sudah bisa mencoba sushi dengan tiga bahkan empat neta sekaligus. Bukan hanya itu, sushi
dalam rata-rata harga Rp13.000 sampai Rp25.000 bisa didapatkan dalam berbagai
macam varian neta, sehingga setiap
hari dengan kantong anda, Anda sudah bisa mencoba berbagai varian rasa sushi
dan apabila diakumulasikan, jika dalam satu hari Anda mengkonsumsi satu varian
sushi berarti Anda sudah memiliki pengalaman mencoba 30 rasa sushi berbagai
varian hanya dalam waktu satu bulan saja!
Bagaimana?
Anda tertarik dengan kenikmatan Jepang ini? Saya sudah lama tertarik dan masih
tertarik sampai sekarang. Semoga cerita saya ini bisa menjadi bahan untuk Anda
mencoba berbagai pengalaman rasa sushi!
Saya
adalah seorang pencinta sushi dari Kota Makassar. Nama saya Thesy Bonita
Sitorus dan Anda bisa menghubungi saya melalui nomor handphone di 081242181020 atau melalui email saya di tesybonita2@gmail.com. Saya akan sangat senang sekali
jika Anda berniat menghubungi saya langsung, atau Anda juga bisa saling berbagi
pengalaman dengan saya melalui akun twitter,
instagram, atau via line yang
saya miliki, yaitu @thesybonita. Semoga selanjutnya, saya dan Anda bisa saling
berbagi cerita dan tidak hanya terbatas tentang sushi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar